Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan
bingung gimana cara konsumsi obat saat puasa ?? tak perlu bingung, ini solusinya.....

Obat dengan aturan minum 3 x sehari
Minumlah obat pada saat berbuka puasa, sebelum tidur (sekitar jam 10 malam), dan pada saat sahur. kecuali obat-obat tertentu yang memiliki indeks terapetik sempit,  dikonsultasikan dengan dokter yang meresepkan.

obat dengan aturan pakai 2 kali sehari
Minumlah obat pada saat berbuka dan pada saat sahur. kecuali  obat-obat beta Blocker seperti RanitidinCimetidin dan Famotidin diminum menjelang tidur dan sebelum makan sahur.

obat dengan aturan pakai 1 x sehari
Obat boleh diminum pada saat berbuka atau pada saat sahur, yang penting tetap.
nah ini ni yang hobinya minum obat, yuk dipelajari siapa tahu bermanfaat :)

obat akan berefek pada tubuh dengan cara :
1. Interaksi obat dengan reseptor
aksi obat selektif melaui sel, ribosom dan reseptor (protein, asam nukleat, enzim, karbohidrat, atau lemak)
2. Interaksi obat dengan enzim
3. kerja non spesifik

Mekanisme kerja obat
obat -> interaksi dengan reseptor -> perubahan biokimia dan fisiologi -> efek

EFEK terbagi menjadi 2 :
1. efek utama : efek yang dikehendaki
2. efek samping : efek yang tidak dikehendaki
a. Idiosinkasi : efek yang berlainan dari efek utamanya karena kelainan genetis pada pasien.
b. Alergi : reaksi obat dengan tubuh yang membentuk antibodi yang menjadikan pasien hipersensitifitas terhadap obat tersebut.
Fotosensitas : kepekaan berlebihan terhadap cahaya akibat penggunaan obat, khususnya pada penggunaan local.
Interaksi obat AINS
Asetosal menggeser ikatan obat-protein AINS lain.
dengan heparin dan antikoagulan oral  beresiko terjadi perdarahan àkarena  AINS menghambat agregasi platelet dan menggeser antikoagulan dari ikatannya dengan protein sehingga terjadi efek potensiasi.
dengan sulfonamida,   sulfonamida dari ikatannya dengan protein oleh salisilatà kadar sulfonamid bebas meningkat à  toksisitas.
dengan litium atau metotreksat  meningkatkan toksisitas karena laju ekskresinya dikurangi sehingga kadar litium atau metotreksat plasma meningkat.
dengan probenesid juga perlu dimonitor karena bisa terjadi efek potensiasi.
dengan diuretik loop dan antihipertensi, karena pemakaian AINS bersama diuretik loop atau antihipertensi menurunkan efektivitas kedua obat ini.


Interaksi AsetosalHeparin dan antikoagulan oral : meningkatkan resiko perdarahan dan memperpanjang waktu pembekuan darah.]
Antasida : mengurangi laju absorpsi asetosal
Senyawa yang mengasamkan urin (vitamin C, Na-posfat, NH4Cl) : menurunkan laju ekskresi asam salisilat dengan cara meningkatkan laju reabsorpsi.
Senyawa yang membasakan urin (metotreksat) : meningkatkan laju eksresi asetosal.
Alkohol : meningkatkan resiko perdarahan
Penisilin : asetosal meningkatkan waktu paro penisilin karena berkompetisi dengan penislinpada transport aktif di tubulus renal.
Vankomisin : meningkatkan resiko ototoksisitas
ACE (angiotensin converting enzyme) inhibitor (kaptopril) : menurunkan efek antihipertensi
Kortikosteroid : meningkatkan laju ekskresi asetosal sehingga menurunkan kadar plasma
Penghambat karbonat anhidrase (asetazolamida): walaupun meningkatkan ekskresi asetosal juga mem-potensiasi toksisitasnya dengan menginduksi metabolik asidosis dan meningkatkan penetrasinya ke jaringan.
Metotreksat : asetosal menurunkan laju ekskresi metotreksat sehingga meningkatkan kadar plasma dan toksisitasnya
Sulfonilurea (mis. Tolbutamid) :  dosis besar asetosal meningkatkan efek sulfonilurea.


Parasetamol adalah drivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik / analgesik yang sering digunakan. Paracetamol utamanya digunakan untuk menurunkan panas badan yang disebabkan oleh karena infeksi atau sebab yang lainnya. Disamping itu, paracetamol juga dapat digunakan untuk meringankan gejala nyeri dengan intensitas ringan sampai sedang. Ia aman dalam dosis standar, tetapi karena mudah didapati, overdosis obat baik sengaja atau tidak sengaja sering terjadi.
Obat yang mempunyai nama generik acetaminophen ini, dijual di pasaran dengan ratusan nama dagang. Beberapa diantaranya adalah Sanmol, Pamol, Fasidol, Panadol, Itramol dan lain lain.

parasetamol yang diberikan secara oral diserap dengan cepat dan mencapai kadar serum puncak dalam waktu 30-120 menit. parasetamol akan terdistribusi dengan cepat hampir ke seluruh jaringan tubuh. sekitar 25% parasetamol dalam darah terikat pada protein plasma. waktu paruhnya antara 1.25- 3 jam. selanjutnya parasetamol akan diekresikan melalui urin sebagai metabolitnya.


Lantas bagaimana parasetamol bisa menjadi racun bagi tubuh??
ini nih mekanisme keracunannya :
parasetamol dalam jumlah 10-15 gram (20-30 tablet) dapat menyebabkan kerusakan serius pada hati dan ginjal. kerusakan fungsi hati juga bisa terjadi pada peminum alkohol kronik yang mengkonsumsi parasetamol dengan dosis 2g/hari atau bahkan kurang dari itu. KOK BISA YA??? PADAHAL ITU OBAT BEBAS DIPASARAN??
keracunan parasetamol disebabkan karena akumulasi dari salah satu metabolitnya yaitu NAPQI yang dapat terjadi karena overdosis, pasien malnutrisi dan peminum alkohol kronik.
keracunan parasetamol biasanya terbagi dalam 4 fase :

FASE 1 (24 jam)
kehilangan napsu makan, mual, muntah, perasaan tak nyaman, berkeringat berlebih.

FASE 2 (48-72 jam)
pembesaran liver, peningkatan bilirubin dan konsentrasi enzim hepatik, pembekuan darah lama, penurunan volume urin

FASE 3 (setelah 72 jam)
hipoglikemia, koma,kelainan pembekuan darah, gagal ginjal, pembengkakan otak, kerusakan hati, sesak napas, dan nekrosis pada sel/jaringan hidup.

FASE 4
kerusakan organ ganda, gagal hati fatal

lantas bagaimana cara mengatasinya jika sudah terjadi keracunan??
PENATALAKSANAAN / PENANGANAN KERACUNAN PARASETAMOL
1. langkah pertama menghilangkan paracetamol dalam sistem pencernaan ( rangsangan muntah)
2. periksakan ke puskesmas atau rumah sakit
3. bilas lambung (dua jam sejak mengkonsumsi)
4. antidotum (asetilsistein)
5. berikan  karbon aktif (arang aktif)
6. jika terlalu parah maka lakukanlah transplantasi hati.


Nah serem kan obat yang kita anggap enteng ternyata menimbulkan resiko yang besar jika penggunaannya tidak benar??
yuk lebih baik mencegah daripada mengobati :)

3-4 bulan dosis parasetamol 60-120mg
1-5 tahun dosis parasetamol 120-250 mg
6-12 tahun dosis parasetamol 250-500
dewasa dosis parasetamol 500mg-1gram

semoga bermanfaaat :)


Nasib Obat Di Rektum

¢Nasib obat yang diabsorpsi dari rektum tergantung dari posisi obat dalam rektum.¢Di daerah sub mucosal pada dinding rektal terdapat banyak pembuluh darah dan pembuluh limfe.¢Pembuluh darah hemorrhoidal bagian atas merupakan saluran ke sirkulasi portal, sehingga obat yang diabsorpsi pada bagian atas akan melewati hati sebelum masuk ke sirkulasi sistemik.¢Sedangkan pembuluh darah hemorrhoidal bagian tengah dan bawah merupakan saluran langsung ke vena cava inferior, sehingga obat yang diabsorpsi pada bagian tersebut akan langsung masuk ke sirkulasi sistemik.

Rectal semisolid
Contohnya:Astrigents (Zinc oxide)Pelindung dan pelicin (cocoa butter dan lanolin)Anestesi lokal (Pramoxine HCl)Antipruritis serta agen antiinflamasi (Hidrokortisone)

Suppositoria KomersialDULCOLAX (bisacodyl)CANASA (mesalamine)NUMORPHAN (oxymorphane)ANUSOL HC (hydrocortisone)PANADOL (parasetamol)

Rektal LarutanROWASA rectal suspension enema (mesalamine),
 ASACOL rectal suspension enema (mesalazine).

 Rektal Aerosol PROCTOFOAM HC (Hidrocortisone dan Pramoxine),
 CORTIFOAM (Hidrocortisone).

About